Ketika Orang Di belakang Panggung Diminta Tampil Di Panggung

Bukan Milza namanya kalau gak pusing, Ya Rab ternyata kehidupan ku ini banyak uniknya.

Jumat minggu kemarin, kami mengadakan rapat internal di sekolah untuk menunjuk kepala sekolah yang akan menggantikan ibu Yati yang akan pensiun pada bulan Desember ini. Aku sudah tau siapa yang akan ditunjuk. Ya, itu adalah aku.

Jujur sebenarnya aku sama sekali tidak ada keinginan menjadi kepala sekolah. Mengingat salah satu guru yang lebih lama di TK Al-Hilaal ingin pula menjadi kepala sekolah. Aku merasa posisi kepala sekolah bukanlah hal istimewa, justru itu adalah tanggung jawab besar, penuh dengan beban pikiran. Teman guru ku, mungin tidak berpikir sampai ke ranah tersebut. Tapi, bagiku itu adalah mimpi buruk, meskipun bisa jadi pengalaman menarik. 

Aku tidak ingin mengatakan aku hebat, jujur aku orang yang penuh insecure. Otak ku penat sering memikirkan hal yang orang lain anggap biasa saja. Namun, kerja keras dan disiplin yang telah lama aku biasakan pada diriku membuat aku mampu menyelesaikan tanggung jawab yang dibebankan padaku. Dari sini lah karakter ku dinilai, bahwa aku orang yang ramah, aktif, perhatian, jujur, dan entahlah, sebagian ada yang bilang aku sombong pun, aku tak tau. Namun, enam tahun mengabdi di TK Al-Hilaal Kamal, Alhamdulillah penilaian yang ku dapat selama ini selalu positif. 

Perlu diketahui bahwa aku bukan tipe orang yang haus kekuasaan. Kekuasaan dan aku adalah dua kata yang sangat bertolak belakang. Bila orang lain ingin dihormati karena ia memiliki kekuasaan atau jabatan yang tinggi terhadap sesuatu, maka aku punya cara ku sendiri agar dihargai. Aku tak perlu jadi orang penting agar dianggap penting. Aku tak perlu jadi pusat perhatian di atas panggung agar orang memuji ku. Aku lebih memilih bekerja dalam keheningan di belakang panggung. Bekerja dengan caraku. Terbukti, orang tetap tau siapa aku, orang tetap percaya aku bisa, orang tetap akui aku mampu. Begitulah.

Namun, kali ini nampaknya beda. Sepandai-pandainya aku menghindar dari tatapan mata, semakin aku diminta maju untuk menampakkan diriku. Aku tentu gusar, ragu, cemas. Aku bagai dipaksa keluar dari kandang ku untuk menikmati dunia yang belum tentu aku suka. Aku yang biasanya sibuk dibelakang panggung menyiapkan hal-hal agar penampilan orang lain menarik, kini diperintahkan untuk tampil. Ini berat, sangat berat. Tapi, aku tetap harus menghadapinya. 

Sejak Jumat minggu kemarin hingga hari ini aku selalu diselimuti kecemasan. Aku berdoa semoga ada jalan terbaik untuk ku. Semoga aku bisa melewati semua ini. Ya Allah berilah petunjuk-Mu kepada hamba yang tak mampu menyelesaikan masalah ku ini....Aamiin 

Komentar

Postingan Populer